Sudah dua hari ini aku mengalami sedikit kesulitan air, dalam arti tidak bisa menggunakan air dengan bebas sekehendak hati, wah benar-benar harus hemat air neh... Sudah dua hari ini sumur di rumah mengalami gangguan suplai air, dalam setengah hari saja air di sumur sudah habis, jadi harus menunggu sampai sore hari untuk benar-benar air terisi kembali. Penggunaan air secara hemat bukan berarti kita mengurangi penggunaan minimal air yang semestinya digunakan untuk kebutuhan kita sehari-hari, yaitu sekitar 2,4 l/dt. Penghematan dalam memanfaatkan air diartikan sebagai tindakan yang tidak menggunakan air secara berlebihan dan cenderung menghamburkan air untuk keperluan yang bukan pokok, misal cuci mobil atau cuci motor. Seyogyanya pemanfaatan air sumur yang ada digunakan utamanya untuk memenuhi kebutuhan pokok kita seperti mandi, cuci dan kakus dengan debit yang semestinya, selebihnya jika masih ada bisa digunakan untuk menyiram tanaman. Permasalahan air ini terjadi baik secara mikro/skala kecil di lingkungan rumah tinggal sampai pada taraf skala nasional dan global, untuk memecahkan permasalahan tersebut sesuai tingkatan skalanya tentu berbeda satu sama lain, namun secara prinsip adalah menahan selama mungkin air yang ada di daratan agar tidak terbuang secara percuma ke laut.
Selasa, 04 Agustus 2009
Minggu, 02 Agustus 2009
Penanganan Komprehensif Masalah Klasik Sumber Daya Air
Permasalahan sumber daya air saat ini masih klasik, yaitu fluktuasi debit air ketika musim hujan dan musim kemarau yang sangat tinggi. Ketika musim hujan tiba, debit sangat berlebih sampai-sampai menimbulkan banjir, sebaliknya ketika kemarau, air menghilang begitu saja seolah tertelan bumi, ya kalau memang air tertelan bumi... itu tidak masalah, artinya air disimpan di dalam perut bumi untuk dikeluarkan kembali manakala dibutuhkan, tapi yang terjadi hilangnya air di musim kemarau bukan disebabkan karena air tertelan bumi, melainkan air terbuang percuma ke lautan, kenapa hal tersebut bisa terjadi ?
Permasalahan klasik sumber daya air ini mestinya mudah untuk diselesaikan manakala kita mau menyelesaikan akan permasalahannya secara komprehensif. Antara air dan tumbuhan/tanaman memiliki hubungan yang sangat terkait satu sama lainnya, dimana ada tumbuhan di situ pasti ada air, artinya apabila kita mengharapkan di suatu tempat selalu ada air maka di tempat tersebut wajib ada tumbuhan, karena sifat akan dri tumbuhan yang dapat menahan tanah dan air dalam satu tempat dan satu waktu, dengan bahasa sederhana jika kita akan mempertahankan keberadaan air maka rebosisasi dan penghijauan wajib dilakukan.
Sampai di sini, sebetulnya permasalahan belum teratasi secara tuntas, karena apabila permasalahan sosial dan ekonomi terkait dengan kesejahteraan, khususnya di daerah-daerah hulu tidak teratasi maka yang tejadi adalah masyarakat setempat akan menggunduli hutan atau bukit yang hijau untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sehingga air kembali tidak memiliki ketahanan tempat untuk disimpan.
Sabtu, 01 Agustus 2009
Berawal dari sini ...........
Indonesia telah mengalami krisis multi dimensi, berawal dari krisis keuangan, krisis ekonomi, krisis sosial, krisis moral sampai dengan krisis air. Air sebagai sumber kehidupan semestinya dijaga dan dilestarikan melalui berbagai kegiatan konservasi sumber daya air.
Pernahkan anda mengalami apa yang pernah saya alami ? Jika pernah, mungkin anda akan memiliki perasaan yang sama seperti yang saya rasakan. Tapi jika anda belum pernah mengalaminya, maka semoga anda bisa merasakannya tanpa harus mengalaminya. Bagaimanapun pengalaman tidak dapat dibagikan, hanya cerita dan ekspresi sajalah yang bisa kita saling berbagi.
Berawal dari pemanasan global yang menyebabkan efek rumah kaca di bumi sehingga mengakibatkan terjadi perubahan iklim global. Di sisi lain terjadi kerusakan lingkungan akibat pembangunan yang tidak berkelanjutan dan mengabaikan dampak lingkungan. Pembangunan ekonomi yang tidak merata menyebabkan permasalahan sosial, hutan-hutan digunduli, kawasan lindung dialihfungsikan menjadi kawasan budidaya, ekosistem menjadi tidak seimbang. Ketika hutan-hutan digunduli, kawasan lindung yang semestinya menjadi kawasan tumbuhnya tanam-tanaman dan berbagai macam tumbuhan yang akan menyimpan air dan menjaga ekosistem beralih fungsi menjadi kawasan budidaya yang menghamparkan puluhan sampai ribuan persegi beton atau aspal maka yang terjadi adalah terjadinya ketidakseimbangan ekosistem. Tanah tidak dapat lagi menyimpan air yang jatuh akibat hujan, air lebih suka mengalir menjadi aliran permukaan yang akan membawa butiran-butiran tanah dan lapis permukaan tanah menuju ke sungai. Dari sungai, air akan dibuang sia-sia menuju laut, APA YANG BISA KITA MANFAATKAN DARI AIR YANG SUDAH DIBUANG KE LAUT ????
Label:
air,
efek rumah kaca,
ekosistem,
iklim,
laut sungai
Jumat, 31 Juli 2009
Reformasi Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air
Kebijakan pemerintah Indonesia dalam pengelolaan sumber daya air (SDA) yang secara implisit dan eksplisit tertuang dalam Peraturan Perundang-Undangan untuk saat ini harus disesuaikan dengan kondisi yang ada. Undang-Undang No. 11 tahun 1974 tentang Pengairan sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini, sehingga digantikan dengan Undang-Undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA) sebagai sebuah reformasi kebijakan pengelolaan SDA.
Adapun perubahan kebijakan ini dilakukan untuk menyesuaikan perubahan paradigma pengelolaan SDA yang semula menempatkan air sebagai barang bebas yang dapat dimanfaatkan secara eksploitatif menjadi pengelolaan SDA secara terpadu, dimana perkembangan permasalahan SDA yang semakin kompleks menjadikan SDA ditempatkan dalam dimensi sosial, lingkungan hidup dan ekonomis secara selaras. SDA tidak hanya sekedar dimanfaatkan secara eksploitatif namun lebih dari itu untuk dikonservasi dan dikendalikan daya rusaknya.
Adapun perubahan kebijakan ini dilakukan untuk menyesuaikan perubahan paradigma pengelolaan SDA yang semula menempatkan air sebagai barang bebas yang dapat dimanfaatkan secara eksploitatif menjadi pengelolaan SDA secara terpadu, dimana perkembangan permasalahan SDA yang semakin kompleks menjadikan SDA ditempatkan dalam dimensi sosial, lingkungan hidup dan ekonomis secara selaras. SDA tidak hanya sekedar dimanfaatkan secara eksploitatif namun lebih dari itu untuk dikonservasi dan dikendalikan daya rusaknya.
Prinsip pengelolaan SDA saat ini adalah MENAMPUNG SEBANYAK-BANYAKNYA AIR DI DALAM TANAH DAN MENAHAN SELAMBAT-LAMBATNYA AIR DI DARAT SEBELUM TERBUANG KE LAUT, itu sebabnya jangan biarkan air hujan yang turun langsung mengalir di permukaan tanah menuju sungai untuk terbuang sia-sia ke laut. Buatlah tandon-tandon air untuk menangkap sebanyak-banyaknya air di daratan, bisa dengan tandon air yang biasa digunakan untuk menampung air sumur, bisa dengan membangun waduk, kolam, embung, danau dan lain-lain (menggunakan prinsip EKOHIDRAULIK) dengan tetap mempertahankan ekosistem yang ada, sehingga keseimbangan alam tetap terjaga.
Kamis, 30 Juli 2009
Perubahan Tata Guna Lahan
Dingin buanget kota batu ini ...
Aku gak bisa tidur, saking dinginnya hawa di kota ini heuuuh.... gak usah pake AC juga rasanya kayak tidur di kulkas... mana lapar lagi ini perut, dingin-dingin rasane cepet banget perut kosong. Kembali ke orchid garden aja akh ...
Daerah di sini klo gak dijaga dan diterapkan Rencana Tata Ruangnya bisa-bisa bakalan menjadi Bogor dan Cianjurnya Surabaya, artinya daerah ini bisa menjadi kawasan yang tidak mampu lagi menjadi daerah tangkapan air bagi daerah-daerah hilirnya. Kawasan ini sangat menarik, semakin lama orang akan semakin tertarik dengan potensi pariwisatanya sehingga berbondong-bondong mendirikan vila dan bangunan lainnya yang akan merubah tata guna lahan di kawasan ini, alhasil daerah tangkapan dan serapan air menjadi semakin berkurang, akibatnya manakala terjadi hujan, air langsung mengalir di permukaan tanah dan tidak jarang membawa lapisan permukaan tanah yang dilaluinya menuju sungai. Sungai semakin banyak menampung sedimentasi tanah yang berakibat pada pendangkalan sungai, hal ini berakibat pada ketidakmampuan sungai untuk menampung debit air manakala terjadi hujan deras, terjadilah apa yang disebut dengan banjir. So' .... hati-hatilah dengan segala aktifitas yang dapat mengubah tata guna lahan, karena akan sangat berpengaruh terhadap ekosistem
Rabu, 29 Juli 2009
FEW, Tiga Persoalan Besar Dunia
Lokakarya Pengendalian Alih Fungsi Lahan sudah dibuka secara langsung oleh Dirjend. Bina Bangda Depdagri, kata Pak Dirjend sekarang ini dunia sedang menghadapi tiga permasalahan besar, yaitu FEW CRYSIS atau yang dipanjangkan sebagai Food, Energy and Water Crysis (Krisis Makanan, Energi dan Air). Sebenarnya ketiganya saling berkaitan satu sama lain, tapi sehubungan blog ini lebih menitikberatkan pada air maka kita bahas yang "W" nya saja ya .... WATER. (yang lain menysul aja deh di blog berikutnya........... klo gak males bikin blog lagi, RIBET !!! gak ada waktu buat ngelolanya). Masih kata Pak dirjend, sebagai sumber kehidupan air semestinya kita jaga dan kita lestarikan agar tetap dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia, terutama untuk minum dan sanitasi. Sekarang ini Jangankan air bersih, air yang digunakan untuk keperluan irigasipun terkadang tidak mencukupi ketersediaanya, hal tersebut disebabkan karena adanya perubahan iklim yang mempengaruhi siklus hidrologi. Bahkan karena permasalahan ketersediaan air ini di samping permasalahan manajemen tentunya, hampir 70 % PDAM seluruh Indonesia mengalami kerugian. Untuk mengatasi persoalan ini pada dua tahun terakhir pemerintah telah menganggarkan dalam APBN sejumlah kurang lebih dua trilyun rupiah untuk mengantisipasi terjadinya kekeringan. Ya semoga saja dengan dana yang ada semua dapat diatasi, dan persoalan yang timbul akibat permasalahan air dapat pula diminimalisir.
Ingat, ingat ... Air sumber kehidupan
lestarikan sumberdaya air untuk anak cucu kita
Ingat, ingat ... Air sumber kehidupan
lestarikan sumberdaya air untuk anak cucu kita
Royal Orchid Garden
Hari ini aku ada tugas dari kantor untuk menghadiri sebuah lokakarya yang diselenggarakan Ditjend. Bina Bangda Depdagri dalam rangka program Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Irigasi Partisipatif - Participatory Irrigation Sector Project guna membahas mengenai pengendalian alih fungsi lahan pertanian beririgasi. Lokasi yang digunakan penyelenggara sangat menarik dan asri, sebuah dataran tinggi dengan udara yang segar. Royal Orchid Garden, sebuah hotel bintang tiga yang menawarkan susana pegunungan nan asri di daerah Batu Malang. Tapi sayang, fasilitas kurang menunjang euy .... Dari namanya semestinya Royal Orchid Garden berupa sebuah taman yang dipenuhi dengan bunga anggrek, namun kenyataannya aku belum melihat dimana itu ada taman anggrek ? Ya sudah lah gak apa-apa, mungkin besok aku baru tahu atau bisa melihat taman anggrek yang dimaksud, sekarang aku mau istirahat dulu, yang jelas suasana di sini sangat asri dan nyaman untuk beristirahat. Masalah ketahanan sumber daya airnya aku belum tahu pasti, tapi tampaknya kurang bisa mendukung ketahanannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
+%5BDesktop+Resolution%5D.jpg)